KABUPATEN NIAS – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) dinilai sangat dibutuhkan oleh para siswa di wilayah pedesaan, khususnya Kecamatan Ma’u, Kabupaten Nias, Sumatera Utara. Hingga kini, sejumlah sekolah di wilayah tersebut disebut masih menantikan kehadiran program yang telah berjalan di sejumlah wilayah lainnya.
Hal tersebut disampaikan Kepala SMP Negeri 3 Ma’u, Soniaman Harefa, S.Pd., saat ditemui awak media di halaman sekolah, Desa Sihare’o III, Kecamatan Ma’u, Kabupaten Nias, Senin (17/8/2026).
Soniaman mengatakan, pihak sekolah bersama para siswa sudah cukup lama menantikan program MBG dapat hadir di wilayah Kecamatan Ma’u. Menurutnya, program tersebut sangat penting karena kondisi ekonomi sebagian besar keluarga siswa masih tergolong terbatas.
“Kami sudah lama menantikan kehadiran Program Makanan Bergizi Gratis. Kalau di wilayah perkotaan sudah berjalan, kami di wilayah pedesaan juga berharap program ini segera hadir karena siswa sangat membutuhkannya,” ujar Soniaman.
Ia menjelaskan, sebagian besar siswa SMP Negeri 3 Ma’u tidak sempat sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Jarak rumah yang cukup jauh dari sekolah membuat para siswa harus berangkat lebih pagi agar tidak terlambat mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Selain persoalan jarak, kondisi ekonomi keluarga juga menjadi salah satu faktor. Sebagian besar orang tua siswa bekerja sebagai petani karet. Ketika musim hujan, aktivitas menyadap karet menjadi terbatas sehingga pendapatan keluarga ikut terdampak.
“Kondisi ekonomi orang tua siswa juga menjadi perhatian. Mayoritas bekerja sebagai petani karet, dan ketika musim hujan mereka tidak bisa mengambil getah secara maksimal. Karena itu, kami sangat berharap program MBG dapat segera masuk ke Kecamatan Ma’u,” katanya.
Siswa Mengaku Sering Tidak Sarapan
Kondisi tersebut juga diakui oleh sejumlah siswa SMP Negeri 3 Ma’u. Saat ditanya apakah mereka selalu sarapan sebelum berangkat ke sekolah, para siswa secara serentak mengaku sering tidak sarapan.
Alasannya beragam. Sebagian siswa mengatakan harus terburu-buru berangkat karena jarak rumah cukup jauh, sementara sebagian lainnya mengaku terkadang tidak tersedia beras di rumah.
Kondisi ini menjadi perhatian pihak sekolah karena kebutuhan gizi siswa berkaitan erat dengan kemampuan mereka mengikuti proses pembelajaran di kelas.
Guru: Ada Siswa yang Pernah Pingsan
Hal senada disampaikan salah seorang guru SMP Negeri 3 Ma’u, Dulles Simanjuntak. Ia mengungkapkan bahwa beberapa siswa pernah mengalami kondisi lemas hingga pingsan ketika mengikuti proses pembelajaran di dalam kelas.
Menurut Dulles, setelah ditanyakan kepada siswa yang bersangkutan, diketahui bahwa mereka belum sarapan sebelum berangkat ke sekolah.
“Kami pernah menemukan beberapa siswa pingsan saat proses belajar di kelas. Ketika kami tanyakan, ternyata mereka belum sarapan pagi,” ungkap Dulles saat ditemui di sekitar Sungai Belauna.
Dulles berharap pemerintah segera memperluas pelaksanaan program MBG hingga ke sekolah-sekolah di Kecamatan Ma’u. Menurutnya, perhatian terhadap pemenuhan gizi seharusnya juga menyentuh anak-anak yang berada di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
“Justru anak-anak di wilayah 3T seperti kami ini yang sangat membutuhkan program tersebut. Jangan sampai program hanya dirasakan di wilayah perkotaan, sementara anak-anak di pedesaan yang kondisinya membutuhkan justru belum mendapatkannya,” ujarnya.
Harapan di HUT ke-81 Kemerdekaan RI
Bertepatan dengan momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Kepala SMP Negeri 3 Ma’u berharap pemerintah pusat melalui Badan Gizi Nasional (BGN) segera memperhatikan kebutuhan siswa di Kecamatan Ma’u.
Ia berharap program MBG tidak hanya menjadi program yang dinikmati sekolah-sekolah di perkotaan, tetapi juga dapat menjangkau sekolah di pelosok dan wilayah pedesaan.
“Kami berharap pemerintah pusat dan Badan Gizi Nasional segera menyalurkan program MBG ke wilayah Kecamatan Ma’u. Anak-anak kami juga memiliki hak untuk mendapatkan makanan bergizi agar dapat belajar dengan sehat dan maksimal,” harap Soniaman.
Sekolah berharap aspirasi tersebut mendapat perhatian serius dari pemerintah, sehingga program MBG dapat segera dirasakan para siswa di Kecamatan Ma’u yang selama ini masih menghadapi keterbatasan ekonomi dan akses terhadap makanan bergizi.
(ArG)







.jpg)


