KENDAL - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kendal berencana menambah lima unit mesin pirolisis, pada 2026 untuk mendukung pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif. Langkah tersebut dilakukan di tengah tingginya produksi sampah di Kendal yang mencapai sekitar 437 ton per hari.
Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari mengatakan, dari total timbulan sampah harian tersebut, sekitar 200 ton masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Karena itu, pemerintah daerah terus mendorong berbagai inovasi guna mengurangi beban TPA.
Komitmen tersebut disampaikan saat peluncuran teknologi pirolisis pengolah sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif Petasol di TPS 3 R Desa Margorejo, Kecamatan Cepiring, Kabupaten Kendal, Kamis 11 Juni 2026.
Selain itu teknologi pirolisis mampu mengolah sampah plastik bernilai ekonomi rendah yang sulit diterima industri daur ulang menjadi bahan bakar alternatif.
"Kami berharap desa-desa lain juga semakin termotivasi untuk mengelola sampah di wilayahnya masing-masing. Pada tahun 2026, kami akan mengadakan lima unit mesin pirolisis yang nantinya diberikan kepada desa-desa dengan TPS 3R yang benar-benar aktif," ujar Bupati Kendal
Harapan kami, bantuan ini tidak hanya berhenti pada penyerahan alat, tetapi juga dapat dioperasikan secara berkelanjutan. Jika teknologi ini terbukti berjalan dengan baik, tentu dapat menjadi salah satu solusi dalam menangani persoalan sampah di Kabupaten Kendal, khususnya sampah plastik," lanjutnya.
Ia menjelaskan, Pemkab Kendal saat ini masih menunggu realisasi kerja sama pengelolaan sampah regional. Namun, proses tersebut diperkirakan baru berjalan dalam dua tahun ke depan sehingga pemerintah daerah tetap mendorong pengelolaan sampah mandiri di tingkat desa.
“PT CELL diperkirakan baru akan beroperasi sekitar dua tahun lagi. Sementara Kabupaten Kendal hanya memiliki kewajiban mengirimkan sekitar 100 ton sampah per hari. Artinya, timbulan sampah yang masih harus ditangani tetap cukup besar dan menjadi pekerjaan rumah kita bersama,” katanya.
Mbak Tika menuturkan, teknologi pirolisis lebih difokuskan untuk mengolah sampah plastik bernilai rendah yang sulit dimanfaatkan kembali. Sementara plastik yang masih memiliki nilai ekonomi akan diarahkan ke jalur daur ulang.
Untuk mendukung upaya tersebut, Pemkab Kendal juga mengupayakan bantuan mesin press plastik bagi Bank Sampah Induk (BSI) serta memperkuat kerja sama dengan perusahaan daur ulang PT Alba 3D.
“Harapan kami, sampah yang tidak memiliki nilai ekonomis dapat diproses menjadi bahan bakar. Sementara sampah yang masih memiliki nilai ekonomis akan dikelola melalui mekanisme pengolahan lainnya,” ucapnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq menilai, penanganan sampah membutuhkan kolaborasi berbagai pihak dan tidak dapat dibebankan kepada pemerintah daerah semata.
"Penanganan sampah tidak mungkin ditangani oleh bupati sendiri. Dengan keterbatasan fiskal daerah, kepedulian berbagai pihak seperti Pertamina dan perusahaan lainnya harus menjadi bagian penting dalam penyelesaian persoalan lingkungan, termasuk sampah yang saat ini menjadi masalah serius," ungkapnya.
Penanganan sampah juga tidak hanya membutuhkan tekad dan modal, tetapi juga inovasi yang kuat," imbuhnya.
Hanif juga mengapresiasi pengembangan teknologi Pirolisis 5.0 yang dinilai mampu mengolah sampah plastik bernilai ekonomi rendah yang selama ini sulit ditangani.
"Ini menunjukkan keseriusan Ibu Bupati Kendal dalam menyelesaikan persoalan sampah. Masalah sampah nasional tidak hanya soal teknologi, tetapi juga manajemen. Kami berharap ada pembinaan yang aman dan akurat,"pungkasnya
(Prawoto)



.jpg)


