KABUPATEN NIAS – Harapan agar program Makanan Bergizi Gratis (MBG) segera disalurkan ke wilayah Kecamatan Ma’u, Kabupaten Nias, Sumatera Utara, disampaikan Kepala SD Negeri 076082 Lewa-Lewa, Hartati Zai, S.Pd. Menurutnya, program tersebut sangat dibutuhkan para siswa, terutama mereka yang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi kurang mampu.
Hal itu disampaikan Hartati Zai saat ditemui dalam kegiatan temu pers di SDN 076082 Lewa-Lewa, Desa Lewa-Lewa, Kecamatan Ma’u, Kabupaten Nias, Sabtu (15/8/2026).
Hartati mengatakan, kondisi sebagian besar siswa di sekolahnya cukup memprihatinkan. Banyak siswa harus berjalan kaki dengan jarak tempuh hingga sekitar empat kilometer untuk pergi dan pulang sekolah.
“Anak-anak kami sebagian besar berjalan kaki ke sekolah dengan jarak yang cukup jauh. Setelah mengikuti proses belajar, tentu mereka merasa lapar. Kalau program MBG sudah tersedia, setidaknya anak-anak mendapatkan makanan bergizi sebelum pulang ke rumah masing-masing,” ujar Hartati.
Ia menambahkan, kondisi ekonomi sebagian orang tua siswa juga menjadi salah satu perhatian pihak sekolah. Bahkan, ketika ditanya mengenai kebiasaan sarapan sebelum berangkat ke sekolah, sejumlah siswa mengaku tidak sempat atau tidak memiliki makanan untuk sarapan.
“Sering saya tanyakan kepada anak-anak apakah mereka sudah sarapan. Ada yang menjawab belum sarapan. Sebagai kepala sekolah, saya tentu merasa prihatin, apalagi mereka harus belajar dalam kondisi lapar dan kemudian masih harus menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk sampai ke rumah,” katanya.
Menurut Hartati, keberadaan program MBG di Kecamatan Ma’u diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan gizi siswa sekaligus mendukung konsentrasi mereka selama mengikuti kegiatan belajar mengajar.
“Kami sangat berharap pemerintah pusat dan Badan Gizi Nasional (BGN) dapat segera menyalurkan program MBG di wilayah Kecamatan Ma’u. Siswa-siswa kami sangat membutuhkannya,” harap Hartati.
Hal senada disampaikan Ketua Komite SDN 076082 Lewa-Lewa, Anotona Gulo. Ia membenarkan bahwa kondisi ekonomi sebagian keluarga siswa masih menjadi tantangan bagi orang tua dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk makanan anak sebelum berangkat ke sekolah.
Menurutnya, masih terdapat anak-anak yang berangkat sekolah tanpa sarapan. Karena itu, program MBG dinilai dapat menjadi salah satu bentuk dukungan bagi siswa, khususnya yang berasal dari keluarga kurang mampu.
“Kondisi ekonomi sebagian masyarakat, khususnya orang tua siswa, memang cukup memprihatinkan. Ada anak-anak yang berangkat ke sekolah tanpa sarapan. Dengan adanya program MBG, kami berharap kebutuhan makanan bergizi bagi anak-anak dapat terbantu,” ujar Anotona.
Anotona juga berharap pemerintah segera memperluas penyaluran program MBG hingga ke Kecamatan Ma’u sehingga siswa di wilayah tersebut dapat merasakan manfaat program tersebut.
“Kami berharap pemerintah pusat segera menyalurkan MBG ke Kecamatan Ma’u. Anak-anak sekolah di sini sangat membutuhkan program tersebut,” pungkasnya.
(ArG)







.jpg)


