• Jelajahi

    Copyright © Postnewstv.co.id
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Film Istimewah Angkat Kisah Nyata Perjuangan Anak-anak Difabel, Sarat Haru dan Inspirasi

    Saturday, August 22, 2026, 17:58 WIB Last Updated 2026-08-22T10:58:04Z

    Kisaran - Kisah nyata perjuangan anak-anak difabel dalam menghadapi kerasnya kehidupan diangkat ke layar lebar melalui film Istimewah. Film tersebut tidak sekadar menghadirkan cerita fiksi, tetapi merupakan pengalaman nyata yang dijalani produser Abdullah Mansuri bersama anak-anak istimewanya.


    Pemutaran film lebih awal digelar di Kisaran, Kabupaten Asahan, pada Jumat (21/8/2026) malam. Kehadiran film yang mengangkat kehidupan anak-anak difabel tersebut mendapat antusias dari masyarakat yang menyaksikan.


    Film Istimewah mengisahkan perjalanan seorang ayah yang mengasuh enam anak disabilitas. Cerita bermula dari lima anak difabel yang selama bertahun-tahun hidup dalam asuhan seorang pria yang mereka panggil "Ayah" bersama seorang perempuan bernama Kinan.


    Namun, perjalanan mereka tidak selalu berjalan mulus. Badai kehidupan membuat sang ayah harus meninggalkan anak-anak tersebut. Kondisi itu kemudian membawa kelima anak difabel menjalani petualangan untuk mencari kembali sosok ayah yang selama ini menjadi tempat mereka bergantung.


    Perjalanan tersebut dipenuhi berbagai peristiwa sedih, haru hingga bahagia. Mereka berusaha kembali membangun rumah yang menjadi tempat berkumpul dan tumbuh bersama anak-anak istimewa lainnya.


    Melalui film ini, penonton diajak melihat lebih dekat perjuangan anak-anak difabel yang selama ini masih menghadapi diskriminasi di tengah kehidupan masyarakat.


    "Film ini merupakan cerita kisah nyata saya bersama anak-anak Istimewa saya. Semua cerita yang ada di dalam film ini, setiap scene-nya itu pernah saya alami bersama anak-anak," kata Abdullah Mansuri saat pemutaran film lebih awal di Kisaran.


    Menurut Abdullah, enam anak disabilitas yang ditampilkan dalam film tersebut merupakan anak-anak yang telah cukup lama hidup bersamanya. Selama kurang lebih enam tahun, ia mengaku telah melalui berbagai perjalanan dan pengalaman yang mengharukan bersama mereka.


    "Anak-anak yang ada di film tersebut sudah cukup lama bersama saya. Enam tahun, dan banyak perjalanan yang cukup mengharukan bersama mereka," ujarnya.


    Abdullah mengatakan, melalui film tersebut dirinya ingin menunjukkan bahwa anak-anak difabel bukanlah beban. Justru, kehadiran mereka menjadi sumber kekuatan dan penyemangat baginya untuk kembali bangkit menghadapi berbagai persoalan kehidupan.


    Tidak hanya menjadi bagian dari cerita, anak-anak istimewa juga dilibatkan langsung dalam proses produksi. Sebanyak sekitar 42 anak difabel terlibat dalam berbagai tahapan produksi, termasuk proses pembuatan film hingga kegiatan di balik layar.


    "Tak hanya dari hasil karyanya saja, namun prosesnya juga melibatkan anak-anak Istimewa. Ada sekitar 42 anak istimewa yang terlibat dalam produksi film ini, mulai dari proses hingga behind the scene," ungkapnya.


    Produksi film tersebut membutuhkan waktu yang cukup panjang. Abdullah menyebut proses penggarapan hingga akhirnya kisah tersebut dapat diangkat ke layar lebar memerlukan waktu sekitar dua tahun.


    Untuk mewujudkan kisah tersebut, Abdullah bahkan mendirikan rumah produksi sendiri sebagai wadah untuk mengembangkan cerita dan karya yang melibatkan anak-anak istimewa.


    "Kenapa saya harus memilih menjadi sosok ayah bagi anak-anak Istimewa saya. Karena saya sendiri merasa umur saya sudah tidak lama, dengan adanya anak-anak ini menjadi penyemangat saya. Sekarang ini, Rumah Istimewa sudah ada 5.000 anak istimewa yang di bawah asuhan saya," katanya.


    Sementara itu, Yanni Melwani, salah satu pemeran yang memerankan karakter Kinan, mengaku tidak mengalami kesulitan berarti ketika menjalani proses syuting bersama anak-anak difabel.


    Menurutnya, kedekatan yang telah terbangun selama lebih dari lima tahun membuat dirinya dan anak-anak tersebut sudah seperti keluarga. Kondisi itu membuat suasana syuting terasa natural dan tidak kaku.


    "Jadi kalau saat syuting itu kayak tidak sedang syuting, melainkan memang seperti keseharian kami saja," kata Yanni.


    Yanni mengaku tantangan justru dirasakannya ketika harus berhadapan dengan sejumlah aktor senior yang terlibat dalam film tersebut.


    "Malahan, saya pribadi merasa tantangan itu setelah berhadapan langsung dengan senior-senior ya, seperti Om Agus, Om Mathias Muchus, Ricky Komo, Bang Fauzan, dan Ajil Ditto," ujarnya.


    Film Istimewah diharapkan tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi ruang untuk membuka kesadaran publik mengenai kehidupan, perjuangan, potensi, serta hak anak-anak difabel untuk mendapatkan kesempatan yang sama dalam berkarya dan menjalani kehidupan.


    Kisah yang diangkat dari pengalaman nyata tersebut menjadi pesan bahwa keterbatasan fisik bukanlah batas untuk bermimpi. Di balik perjuangan anak-anak istimewa, terdapat kekuatan, kasih sayang dan semangat yang mampu mengubah kehidupan orang-orang di sekitarnya.


    (Z.Saragih). 

    Komentar

    Tampilkan