JAWA TENGAH – Perayaan Hari Raya Suci Pagerwesi umat Hindu di Jawa Tengah berlangsung di Kompleks Candi Cetho, Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, dengan menghadirkan dua tokoh lintas organisasi yang menyampaikan pesan tentang pentingnya memperkuat iman, ilmu pengetahuan, integritas, toleransi, serta menjaga persatuan dalam kehidupan bermasyarakat. Rabu 4 November 2026.
Kompleks Candi Cetho yang berada di lereng Gunung Lawu, pada ketinggian sekitar 1.400 meter di atas permukaan laut (mdpl), menjadi salah satu pusat kegiatan keagamaan umat Hindu. Candi peninggalan era akhir Majapahit tersebut memiliki nilai sejarah dan spiritual yang kuat, termasuk sebagai tempat pemujaan kepada Hyang Pramesti Guru untuk memohon keselamatan alam beserta seluruh isinya.
Dalam momentum peringatan Pagerwesi tahun ini, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Perkumpulan Advokat Moeslimin Indonesia (PERADMI) Jawa Tengah, KRT AD Anggoro, S.E., S.H., menyampaikan ucapan selamat sekaligus pesan reflektif mengenai makna Pagerwesi dalam kehidupan, termasuk relevansinya dengan profesi advokat.
“Selamat memperingati Pagerwesi. Semoga Sang Hyang Widhi senantiasa melimpahkan kesehatan, kelancaran, dan kekuatan dalam memimpin, serta mengabdi kepada masyarakat,” ungkap KRT AD Anggoro.
Menurutnya, Pagerwesi yang secara harfiah dimaknai sebagai pagar besi memiliki filosofi mendalam, terutama dalam membangun benteng moral dan integritas diri. Nilai tersebut dinilai sejalan dengan tanggung jawab seorang advokat dalam menjaga kebenaran dan memperjuangkan keadilan di tengah masyarakat.
Ia menegaskan bahwa seorang advokat harus memiliki pagar diri yang kokoh, berlandaskan iman, ilmu pengetahuan, serta integritas agar tidak mudah terpengaruh oleh kepentingan yang bertentangan dengan kebenaran.
“Pagar besi itu bukan fisik, tetapi pagar ilmu dan moral. Sebagai advokat, kita memagari diri agar tidak menyimpang dari kebenaran,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Pimpinan Provinsi (DPP) Perhimpunan Pemuda Hindu (Peradah) Indonesia Jawa Tengah, Teguh Pambudi, M.Pd.H., menyoroti pentingnya peran generasi muda Hindu dalam menjaga nilai-nilai spiritual, toleransi, persatuan, dan kearifan lokal.
Ia menyampaikan bahwa Candi Cetho bukan sekadar tempat bersejarah, tetapi juga menjadi ruang refleksi untuk memahami makna spiritual Pagerwesi, yakni memperkuat pengendalian diri, menenangkan pikiran melalui yoga semadi, serta meningkatkan pengetahuan suci atau widya.
“Dari Candi Cetho kita diajarkan bahwa Pagerwesi adalah momentum untuk yoga semadi, menenangkan pikiran dan menguatkan widya. Pemuda Hindu harus menjadi pagar hidup yang menjaga toleransi, persatuan, dan kearifan lokal di Jawa Tengah,” ujar Teguh Pambudi.
Sebagai informasi, Hari Raya Pagerwesi diperingati setiap 210 hari sekali, tepatnya empat hari setelah Hari Raya Saraswati. Perayaan ini dimaknai sebagai momentum untuk memperkuat diri dengan ilmu pengetahuan suci dan nilai-nilai spiritual sebagai benteng dalam menghadapi berbagai pengaruh negatif kehidupan.
Kedua tokoh lintas organisasi tersebut sepakat bahwa pesan utama Pagerwesi tidak hanya menjadi refleksi bagi umat Hindu, tetapi juga memiliki nilai universal yang dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat luas.
Dari kawasan suci Candi Cetho, semangat Pagerwesi diharapkan menjadi pengingat bahwa keberagaman merupakan kekuatan yang harus dijaga bersama. Jawa Tengah sebagai rumah bagi berbagai suku, agama, dan budaya membutuhkan semangat gotong royong, saling menghormati, serta menjunjung tinggi semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Dengan demikian, makna Pagerwesi bukan hanya tentang membangun pagar bagi diri sendiri, melainkan juga memperkuat komitmen bersama untuk menjaga kerukunan, keadilan, toleransi, dan persatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. **







.jpg)

