Sidang agenda pemeriksaan Saksi dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang di jadwalkan dimulai pukul 09.00 WIB itu sempat tertunda hingga setelah istirahat siang.
Di sela-sela jadwal persidangan, sorotan awak Media tertuju pada kehadiran Nuryanto Hamzah, salah satu Menejer First Resources,Ltd. Saat akan meninggalkan Gedung Pengadilan, Nuryanto langsung di kerumuni sejumlah awak media dan di cecar sejumlah pertanyaan.
Dalam rekaman video awak media, Nuryanto dicecar beberapa pertanyaan mengenai dugaan pengemplangan Pajak atas penyerobotan lahan yang disita satgas PKH, sebesar Rp1,4 Triliun seperti yang tercantum dalam laporan Ormas PETIR pada akhir 2024 lalu.
Menanggapi hal ini, Nuryanto dengan singkat menjawab, “ Kalau itu bukan wewenangan saya untuk menjawab,” katanya singkat, pada Kamis (29/01) sekira pukul 12.12 WIB.
Wartawan juga mendesak Nuryanto untuk menjelaskan soal kronologis percakapan dan apa alasan Nuryanto Hamzah untuk menawarkan pertemanan dengan ketua PETIR jika memang perusahaan PT Ciliandra Perkasa dibawah naungan Surya Dumai Group bersih..?
Pertanyaan ini sontak membuat Nuryanto tampak ter bata-bata dan tidak memberikan jawaban langsung.
Wartawan juga mempertanyakan terkait uang Rp 150 juta yang diduga menjadi Barang Bukti (BB) dalam kasus dugaan pemerasan tersebut. Dimana, dalam rekaman CCTV saat pertemuan mereka di hotel Furaya pada tanggal 13 Oktober 2025 lalu, Nuryanto Hamzah membawa tas merah berisi uang Rp150 juta
“Iya (menyiapkan uang), atas perintah saya,” ucap Nuryanto.
Kemudian, ada beberapa pertanyaan yang di cecar awak media namun tak dijawab Nuryanto Hamzah hingga memilih meninggalkan Wartawan. Selanjutnya, Nuriyanto Hamzah meminta agar awak media untuk mendengarkan kesaksian yang akan disampaikannya dalam persidangan nanti, sembari berlalu dari kerumunan Wartawan.
Untuk diketahui, bahwa Kasus ini menuai sorotan tajam dari sejumlah Aktivis Riau dan pegiat anti Korupsi,yang meminta supaya dugaan pengemplangan Pajak dengan nilai fantastis (Rp1,4 Triliun) yang diduga dilakukan Pihak Korporasi raksasa di Riau (sesuai temuan Ormas PETIR) segera diusut tuntas dan transparan agar tidak menimbulkan spekulasi ditengah publik.
(Hs)





